Raker MGMP PAI Jateng Bekali Peserta Metode Cepat Tahfidz Qur’an

Infowonosobo.com – Pengurus Musyarawah Guru Mata Pelajaran (MGMP) PAI SMP mengadakan seminar dan Raker di Wonoland Wonosobo tanggal 22-23 Februari 2020.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Wonosobo, Kasubdit PAI pada SMP/SMLB Direktorat PAI Kementerian Agama, Kasi Ketenagaan Subdit PAI SMP/SMPLB, utusan dari Bidang PAI Kemenag Propinsi Jawa Tengah, pejabat dari Kemenag Kabupaten Wonosobo dan pengurus MGMP PAI SMP dari 35 kabupaten/kota se Jawa Tengah.

Salah satu materi yang diberikan dalam acara tersebut adalah pembekalan cara menghafal Al Quran 30 juz dalam 1 bulan dengan narasumber Hj. Yuli Sri Latifah Al Hafidoh, M.SI pengasuh pondok pesantren Siwatu Watumalang Mojotengah. Dengan materi ini diharapkan guru PAI bisa ikut menghafal Al Quran sebab itu menjadi kebutuhan pokok bagi guru agama. Minimal bisa mengarahkan anak didiknya bisa menjadi hafidz dan hafidoh.

Dalam kesempatan tersebut disampaikan bahwa mitos yang berkembang saat ini jika menghafal al Quran, mereka beralasan
 Beranggapan bahwa menghafal hanya untuk anak-anak.
 Menganggap diri sudah tua sehingga sulit menghafal Al-Qur’an.
 Menyalahkan orang tua, yang tidak mengarahkan dirinya untuk belajar Al-Qur’an sejak kecil.
 Beralasan tidak ada guru dan tempat untuk menghafal.
 Merasa tidak punya waktu senggang untuk menghafal.
 Tidak ada program menghafal Al-Qur’an yang bisa diikuti secara singkat.
 Merasa belum menemukan metode yang cocok untuk dirinya.
 Meyakini pemahaman hadis bahwa lupa hafalan Al-Qur’an merupakan dosa besar, sehingga tidak mau menghafal Al-Qur’an karena takut dosa.
 Berkeyakinan bahwa ayat Al-Qur’an sulit dihafal dan cepat lupa.
 Kesibukan sehari-hari dan sulit membagi waktu karena tidak ada prioritas.
 Berprasangka bahwa ingatannya lemah sehingga minim ikhtiar.
 Anggapan bahwa menghafal harus dimulai saat bulan Ramadhan.

Berdasarkan fakta yang ada melalui metode ini sudah terbukti seorang pensiuan PNS dalam usia 58 tahun berhasil menghafal al Qur’an dalam waktu 3 bulan itu disebabkan karena beliau mempunyai penyakit migren sehingga tidak bisa menyelesaikan sesuai target yang telah ditentukan. Dan ada salah satu santri yang bisa menghafal 30 juz dalam waktu 21 hari.

Drs Agus Sholeh, M.Pd selaku Kasubdit PAI SMP/SMPLB dalam sambutannya meminta kepada para guru PAI SMP agar selalu meningkatkan kemampuannya dalam menghadapi perkembangan ilmu dan teknologi yang begitu pesat. Apalagi seiring dengan kebijakan zonasi yang menuntut agar setiap sekolah dapat memberikan manfaat bagi pembinaan dan kemajuan masyarakat sekitar sekolah.

“Kami berharap agar setiap guru PAI SMP dapat terus meningkatkan kemampuannya, tidak hanya sekedar mengajar, namun menjadi guru yang dapat menjadi panutan bagi pembinaan dan kemajuan masyarakat di sekitar sekolah”, ujar Agus Sholeh.

Ia menyatakan bahwa MGMP PAI SMP mempunyai peranan penting dalam menyamakan langkah untuk pembinaan anak-anak usia SMP yang saat ini menghadapi tantangan yang lebih berat dihadapi daripada para gurunya. Hal ini karena kemajuan ekonomi Indonesia dan perkembangan teknologi yang begitu pesat.

“Kita harus memberikan bekal yang cukup untuk masa depan anak-anak kita ini, karena merekalah yang akan memimpin bangsa, agama dan Negara kita ini. Karena itu mereka harus kita bekali dengan nilai-nilai keislaman dan keindonesian yang seimbang.” ujarnya mengingatkan.

Ia juga meminta agar para pengurus MGMP PAI SMP terus membangun komunikasi yang aktif dengan Pemerintah Daerah dan Kementerian Agama agar pendidikan agama Islam di sekolah dapat terlaksana dengan baik.
“Kementerian Agama memberikan apresiasi yang tinggi kepada Pemerintah Daerah yang telah mendukung pelaksanaan pendidikan agama Islam di daerah dengan sangat baik. Apalagi sebagian besar guru PAI SMP itu adalah pegawai Pemda”, ujar Agus Sholeh sambil menyebutkan sejumlah Pemerintah Daerah yang siap membantu dana untuk mendukung rencana PPG mandiri bagi guru PAI.

Persiapan MAPSI

Sementara itu Ketua MGMP PAI SMP Propinsi Jawa Tengah H. Yaskur dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan ini Wonosobo ini akan diisi dengan seminar sekaligus dilaksanakan raker persiapan Lomba Mata Pelajaran dan Seni Islam (MAPSI tahun 2020.

Ia menjelaskan bahwa Lomba MAPSI tahun 2020 akan dilaksanakan di Batang pada bulan Oktober 2020 yang akan diikuti sekitar 800 anak memperrebutkan Piala Bergilir Gubernur Jawaf Tengah. Dalam kegiatan MAPSI ini akan dilombakan 5 mata lomba, yaitu tilawah, tartil, tahfidl, pidato, kaligrafi, hadroh dan cerdas cermat, baik untuk laki-laki maupun perempuan.

“Lomba MAPSI ini kita adakan setiap tahun untuk meningkatkan pemahaman dan ketrampilan anak-anak dalam mata pelajaran PAI dan meningkatkan tali silaturahmi anak SMP se Jawa Tengah. Hal ini agar tercipta ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathoniyah”, ujar Yaskur.

Sedangkan untuk acara seminar ia mengagendakan topik tentang pembelajaran al Qur’an dan peningkatan mutu GPAI SMP yang profesional. Hal ini agar GPAI SMP dapat mensukseskan program Baca Tulis Al Qur’an bagi anak-anak usia SMP.

Dukungan Pemda

Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Wonosobo M.Kristiyadi, mengatakan bahwa pihaknya memberikan apresiasi yang tinggi dan dukungannya atas pelaksanaan Seminar dan Raker MGMP PAI SMP se Jawa Tengah ini di Wonosobo. Hal ini sejalan dengan semangar Wonosobo untuk menjadi kota yang ASRI, yaitu Aman, SEhat, RApi dan Indah.

“Kami mendukung kegiatan seminar dan Raker MGMP PAI SMP se Jawa Tengah ini di Wonosobo. Pihaknya berharap agar pada guru PAI SMP se Jawa Tengah ini terus semakin meningkatkan kompetensinya dan mendukung pembangunan di daerah masing-masing”, kata Sigit saat menyampaikan sambutannya.

Lebih lanjut pria yang baru dua bulan menjadi Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga ini menyatakan bahwa guru agama Islam di sekolah dapat membantu meningkatkan perekonomian daerah. Hal ini karena di Wonoso banyak obyek wisata yang mempunyai nilai budaya maupun agama yang tinggi yang dapat dikunjungi.

“Di Wonosobo ini banyak obyek wisata yang bernilai tinggi, baik karena nilai ekonominya atau karena warisan budayanya. Karena itu dapat menjadi edukasi bagi anak-anak dalam kerukunan hidup umat beragama”, katanya sambil menyebut Candi Dieng sebagai warisan dari agama Hindu yang tetap terjaga hingga kini dan beberapa aulia yang ada di Wonosobo.

Ia juga kembali mengingatkan bahwa guru agama adalah seorang tokoh atau figur yang diteladani di masyarakat. Karena itu ia berharap agar guru agama haruslah seorang yang profesional, yang memiliki kompetensi paedagogik, kepribadian, profesional dan sipritual dan leadership.

“Seorang guru agama adalah seorang informal leader (pemimpin di masyarakat). Karena itu kami selalu koordinasi dengan Kementerian Agama agar pendidikan agama Islam di sekolah dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya”, ungkaptnya.

Pada akhir sessi kegiatan ini Kasi Ketenagaan Subdit PAI pada SMP Hasan Basri juga menyampaikan paparan tentang pembinaan guru PAI SMP dan pelaksanaan sertifikasi guru PAI SMP yang selama ini menjadi tanggung jawab Kementerian Agama.

“Saat ini Kementerian Agama sedang intensif melakukan komunikasi dan koordinasi dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terkait dengan pelaksanaan sertifikasi guru PAI, baik pada TK, SD, SMP, SMA maupun SMK. Hal ini terkait dengan kebijakan pelaksanaan uji kompeternsi, PPG maupun impassing guru non PNS”, ungkapnya.Dika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *