Saat Pandemi Covid-19, Debt Colector External Wom Finance Wonosobo Di Duga Telah Melakukan Perampasan Kendaraan Secara Paksa.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan keringanan bagi masyarakat yang terdampak penyebaran virus corona. Salah satu relaksasi yang diberikan adalah keringanan kredit di bawah Rp10 miliar.

Tak hanya itu, ada pengurangan bunga dan penundaan cicilan selama 1 tahun. Kepala Negara juga melarang industri keuangan menagih kredit pada masyarakat apalagi menggunakan debt collector. Hal tersebut pun di atur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) nomor 11/POJK.03/2020 tentang stimulus perekonomian nasional. 

Namun tidak demikian salah satu Oknum WOM Finance cabang Wonosobo yang memberikan kuasa kepada rekananya yaitu pihak ketiga jasa debt collector untuk melakukan penarikan kendaraan secara Paksa pada konsumenya atas nama Sarkim dengan jenis kendaraan Honda Mobilio warna abu abu metalik dengan Plat R 9371 SD yang di tarik paksa oleh debt collectot di Purwokerto.

Sarkim menuturkan, “Saya punya pinjaman dengan WOM Finance, angsuran saya lancar saat itu karna dampak covid-19 sehingga menyebabkan usaha saya berhenti dan angsuran saya tersendat ,sesuai dengan himbauan pemerintah saya sudah mengajukan relaksasi kepada perusahaan pembiyayaan yaitu WOM Finance namun masih dalam pertimbangan , saya kaget ketika saya di telpon oleh temen saya namanya Trimo, dengan nada gugup menyampaikan bahwa mobil yang di pakai di tarik secara paksa di jalan oleh Debt collector eksternal WOM Finance”.

Sarkim menambahkan, “saya shok mendengarkan itu karna saya sedang mengajukan relaksasi koch mobil di tarik. Besoknya saya datang ke kantor untuk komplain dengan WOM Finance atas tindakanya, namun WOM Finance meminta untuk dilunasi semua pinjamanya dengan jumlah kekurangan angsuran,denda dan di tambah dengan biaya penarikan senilai 10 juta ,saya merasa keberatan dan saya merasa di rugikan. Apa bila mobil tidak di kembalikan saya akan gugat secara hukum melalui pengacara saya”. Tegasnya Rabu(20/05)

Eksekusi penarikan barang jaminan kendaraan dengan kredit bermasalah tidak bisa sembarangan. Baik konsumen maupun perusahaan pembiayaan sudah dilindungi lewat aturan Undang-undang No. 42 Tahun 1999 tentang jaminan fidusia. 

Trimo yang menjadi Korban penarikan paksa oleh debt collector menuturkan, ” kejadianya pada hari kamis tanggal 14 Mei 2020 saya main ke purwokerto menggunakan Honda Mobilio berwarna abu abu metalik milik pak sarkim, saat saya arah pulang dari berkoh baru berjalan kurang lebih 2 Km saya di peped oleh mobil toyota inova yang ber isi 5 orang , mereka mengaku dari Kolektor Eksternal WOM Finance”. 

Trimo Menambahkan, “saat itu sempat terjadi pedebatan antara saya dengan mereka, namun karna saya takut ahirnya saya dengan terpaksa memberikan mobil kepada mereka dan saya di paksa untuk tandatangan namun saya menolak untuk menandatangani berkas yang mereka berikan”.ungkapnya

Perampasan kendaraan yang dilakukan oleh debt collector telah melanggar Peraturan Kapolri Nomor 8 Tahun 2011, satu-satunya pihak yang berhak menarik kendaraan kredit yang didaftarkan ke fidusia adalah pihak kepolisian, bukan lah preman berkedok Debt Collector.

Kejadian ini menjadi koreksi dan cambukan keras untuk para penegak hukum dan pemerintah karna di saat pandemi covid-19 masih ada perusahaan yang masih menghiraukan aturan pemerintah yang di himbaukan Presiden RI dan harus di tindak secara tegas.(ABCS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *